Bebas BAB sembarangan…kapan???

Hari ini, saat aku pandangi desaku yang permai. Konon sebuah desa yang panjang punjung gemah ripah, tata tentrem kerta tur raharja. Masyarakatnya hidup rukun berdampingan. Setiap hari berangkat kesawah dengan cangkul dan garu welukunya. Sore harinya kembali lagi kesawah untu mencari rumput bagi makanan ternak-ternaknya. Sapi, kerbau dan kambing selalu ada disetiap samping rumahnya. Mereka makan hanya dari hasilnya bercocok tanam disawah, dipinggiran hutan kelapa yang diambil niranya untuk diolah dijadikan gula kelapa.Namun sayang di abad teknologi informasi yang semakin menggelora ini sebagian besar masyarakat pedesaan. Utamnya yang hidup di lereng – lereng gunung dan pegunungan masih jauh dari sentuhan pendidikan dan kebiasaan hidup sehat yang memadai. Walaupu secara geografis desa karangbendo hanyalah 10 kilometer dari pusat pemerintahaan kota Blitar. Kota yang terkenal dengan semangat patriotik Sudanco Supriyadi yang sebagai Pahlawan Peta Blitar. Bung Karno, ploklamatir RI, putra sang fajar dan penyambung lidah rakyat Indonesia dibesarkan dan dimakamkan di Blitar.
Buku-buku besarnya bisa dinikmati di Perpustakaan Bung Karno. Ajaran nasionalisme, marhenisme, sosialisme selalu digembar-gemborkan dalam setiap kesempatan.
Tapi nyatanya di kampungku masih banyak dijumpai masyarakat yang tidak dapat membaca dan menulis, alias buta huruf. Kesehatan lingkungan kurang mendapat perhatian yang serius. Mandi, cuci dan buang air masih sembarangan. Di tegal, di sawah, di jumbleng seadanya. Jika musim hujan tiba dibawa air kemana-mana. Wabah diare, desentri dan penyakit perut lainnya selalu dikeluhkan masyarakat. Terutama yang masih pada usia balita adalah pengunjung setia di puskesmas pembantu Karangbendo kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar. Penyebabnya apa??? Tak lain dan tak bukan adalah nyamuk dan lalat yang ditimbulkan oleh sanitasi yang kurang baik.Tangan – tangan lincah yang diharapkan dapat membantu masyarakat, paling tidak coba berikan motifasi positip tentang pentingnya pendidikan dan manfaat dari hidup bersih dan sehat hampir tak pernah datang. Memiliki sapi, kerbau dan kambing banyak masih tak juga bersedia untuk bangun kamar mandi dan utamanya untuk “buang air besar”. Sanggup beli truk untuk usaha material dan beli honda gl pro tapi anaknya lulus smp cukup. Kondisi demikian ini yang membuat wargaku selalu ketinggalan dari yang lain. Bila jalan-jalan dengan pakaian trendi, motornya mengkilat dan parfumnya wangi, tapi buang air besar masih di jumbleng!!

Jumbleng adalah suatu tempat dimana seseorang membuang hajat besarnya. Terdiri dari tanah yang digali sedalam kurang lebih dua meter, lebar sisi-sisinya satu meter, diatasnya diberi kayu dan anyaman bambu dan diberi lubang untuk mengeluarkan hajat. Tinja jatuh kebawah terus diurai oleh bakteri dan jasat renik lainnya sekaligus dibarengi dengan bau yang kurang sedap.
Sebagian besar penduduk menggunakan fasilitas jumbleng ini untuk dijadikan sarana buang hajat. Satu bangunan jumbleng digunakan untuk tiga sampai empat kepala keluarga. Masing – masing keluarga punya anggota empat orang. Jadi satu jumbleng setiap harinya harus menampung tinja 4 X 4 orang sama dengan 16 orang.
Kami dari pihak puskesmas telah berupaya memberikan pengertian dan motivasi tentang sanitasi yang sehat. Dengan menyisihkan beberapa rupiah untuk membantu membuat WC semi permanen yang penting tertutup bebas dari nyamuk dan lalat. Satu jamban untuk empat sampai lima kepala keluarga. Tapi sampai detik ini masih belum bisa terealisir. Karena banyak faktor yang mempengaruhi gagalnya usaha ini. Faktor pendidikan, budaya masyarakat setempat dan pandangan kolot yang sulit ditinggalkan. Untuk itu bila ada teman-teman yang berkompeten dalam bidang ini dan sempat baca posting ini, saya mohon bantuan jalan keluarnya. Dengan bantuan teknologi boleh keluar angkasa, dengan sumbang saran anda kami dapat lepas dari belenggu wabah akibat tinja….

Hari Blidan Nasional

bidan

Hawa dingin menyelimuti kawasan Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet, sekitar 75 kilometer arah selatan pusat kota Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (21/6) pagi. Kesibukan telah tampak di pondok bersalin desa atau polindes yang dihuni Ria Anugerah (25).

Seusai berberes rumah, ia sibuk mengemasi peralatan medis di tempat praktiknya yang mendompleng bangunan puskesmas pembantu. Stetoskop, dopler—alat pendeteksi detak jantung janin—dan obat-obatan dimasukkan ke dalam tas kerjanya. Sementara vaksin untuk imunisasi disimpan dalam termos es.

Pagi itu, ibu dari satu anak tersebut hendak mengunjungi pos pelayanan terpadu di desa yang berbatasan dengan wilayah tugasnya, menggantikan temannya yang tengah cuti melahirkan.

Yusep Undang (28), suaminya yang berprofesi sebagai mantri di desa yang sama, telah menanti di atas sepeda motor di depan pintu rumah.

Pasangan muda itu pun berboncengan menuju tempat pelaksanaan posyandu di Kampung Leuwi Se’eng, Desa Jatisari, Kecamatan Cisompet, Garut.

Di lokasi posyandu, dengan telaten, Ria memeriksa kesehatan para ibu hamil dan anak-anak di bawah usia lima tahun (balita). Ia juga melayani sejumlah perempuan yang ingin menggunakan KB suntik. Sang suami pun ikut membantu mengimunisasi dan memeriksa kesehatan anak balita.

Medan sulit

Bertugas di daerah terpencil sering kali menuntut para bidan harus menempuh medan sulit dan berbahaya dalam memberi layanan persalinan. Saat berbadan dua hingga menjelang melahirkan pun, banyak bidan masih menunaikan tugasnya. Bahkan, ada bidan yang keguguran saat bertugas membantu persalinan.

Koordinator Bidan Kecamatan Cisompet Sundini menuturkan, pada tahun 1990-an ia sering berjalan kaki beberapa jam naik-turun bukit dan melintasi sungai menuju rumah pasien, termasuk ketika sedang hamil. Sebab, warga setempat cenderung memilih melahirkan di rumah sendiri dengan alasan lebih nyaman karena ditunggui keluarga.

Karena wilayah geografis luas dan sulit dijangkau, biaya operasional bidan di daerah terpencil, terutama terkait transportasi pun membengkak. Untuk menuju Kampung Hegar, Desa Cikondang, misalnya, ongkos ojek mencapai Rp 50.000 sekali jalan. Jadi, sering kali uang pengobatan dari pasien tidak bisa menutup biaya operasional.

Saat ini, standar biaya persalinan normal yang ditangani bidan desa berkisar Rp 200.000 hingga Rp 250.000. Karena mayoritas warga setempat memiliki kemampuan ekonomi menengah ke bawah, biaya persalinan itu kebanyakan diangsur beberapa kali sesuai kemampuan keluarga bersangkutan. ”Kadang, warga tidak bayar. Kalaupun membayar, semampunya,” tutur Ria.

Sebagai bidan desa, ia memperoleh gaji sekitar Rp 1 juta, sebagian habis untuk biaya operasional. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia dan suaminya berjualan pulsa telepon dan membuka usaha rental komputer di tempat tinggal mereka yang berada di belakang puskesmas pembantu. ”Kalau tak ada penghasilan sampingan, gaji tak akan cukup,” kata Yusep.

Mengubah perilaku

Bidan merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan ibu dan anak balita bagi masyarakat pedesaan. ”Banyak perempuan yang malu berobat ke mantri pria waktu sakit. Mereka lebih suka diperiksa bidan,” ujar Ria.

Meski keberadaannya sangat dibutuhkan, perhatian pemerintah terhadap nasib para bidan masih minim. Hal ini bisa dilihat dari buruknya kondisi sejumlah polindes hingga tak bisa ditempati bidan yang bertugas.

Bangunan polindes Cipucung, Kecamatan Banyuresmi, Garut, yang dihuni bidan Nurzah Akmalia bersama keluarganya, misalnya, tampak reyot. Ruang praktik bersalin berukuran 4 meter persegi dipakai bergantian dengan suaminya yang jadi mantri desa.

Selain fasilitas fisik terbatas, para bidan desa juga memikul tanggung jawab terhadap masalah angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir. Bidan Leni Martini yang bertugas di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikajang, Garut, mengaku sangat sedih tatkala ada seorang ibu di desa itu meninggal dunia dalam proses persalinan yang ditangani paraji (dukun beranak).

Sulitnya mengubah perilaku kesehatan masyarakat dirasakan para bidan desa terutama yang bertugas di daerah terpencil. Meski demikian, di tengah medan yang sulit, para perempuan perkasa itu tetap mengabdikan diri demi meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak balita.

Sumber: Kompas Cetak, cetak.kompas.com

Lomba Posyandu Kabupaten Blitar

Dengan semangat “Hurub Hambangun Praja” kami berangkat memandu team kader Posyandu Desa Karangbendo mewakili Kecamatan Ponggok dalam rangka Lomba Posyandu se Kabupaten Blitar yang diadakan di Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar jl. Merdeka Utara Blitar,  03 Nopember 2009.

fotoposyandu

Walau pendidikan akademik kader-kader kami jauh tertinggal dibanding dengan kader-kader dari kecamatan lain seperti Talun, Wlingi, Garum, Kesamben dll. Saya sebagai Bidan Desa di wilayah Puskesmas Pembantu Karangbendo selalu berikan semangat untuk lebih banyak belajar dan belajar. Kasihan anak-anak yang tidak lain dan tidak bukan adalah generasi harapan bangsa. Jika bukan kita-kita yang perduli lalu siapa lagi. Orang tua sibuk cari makan, anak-anak hampir tak difikirkan.

Setelah melalui tahap pre-test … team kami lolos dari lubang jarum masuk 6 (enam) besar dan akhirnya bisa mendapatkan posisi Harapan I . Lumayan setidak-tidaknya Tuhan turut merestui hasil jerih payah kami selama ini.  Karena bagiku ini belum apa-apa … ini baru permulaan … mohon support bapak-bapak dan ibu – ibu perhatikan kami yang terpencilll dan tertinggal .

SELAMAT BERJUANG KAWAN – KAWAN … MERDEKA !!!!

Bab III

BAB III

METODE PENELITIAN

III.1.    Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yaitu suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya (Sukmadinata, 2006:72).

Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnya kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung.

Furchan (2004:447) menjelaskan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status suatu gejala saat penelitian dilakukan. Lebih lanjut dijelaskan, dalam penelitian deskriptif tidak ada perlakuan yang diberikan atau dikendalikan serta tidak ada uji hipotesis sebagaimana yang terdapat pada penelitian eksperiman.

III.2.    Kerangka Kerja

Kerangka penelitian dapat dilihat pada gambar 3.1 sebagai berikut :

Pengetahuan Ibu Hamil tentang tanda bahaya kehamilan Usia, Paritas, Pekerjaan dan sumber informasi

Gambar III.1 Kerangka Kerja penelitian Pengetahuan Ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan di Puskesmas Pembantu Karangbendo.

III.3. Definisi Opersional dan Cara Pengukurannya

Tabel III.1. Definisi Operasional

Variabel Definisi

 

Operasional

Cara

 

pengukur

an

Katagori Skala

 

ukur

Pengetahuan Ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan

 

Segala sesuatu yang diketahui atau dijawab oleh responden Tentang tanda – tanda bahaya kehamilan Kuesioner

 

  1. Kurang apabila : Pertanyaan di jawab benar oleh Ibu : <56%
  2. Cukup, apabila pertanyaan dijawab benar oleh Ibu : 56%-75%
  3. Baik, apabila pertanyaan dijawab benar oleh Ibu : 76% – 100%

Ordinal

Lanjutan Tabel : III.1.

Variabel Definisi

 

Operasional

Cara

 

pengukur

an

Katagori Skala

 

ukur

Pendidikan

 

Pendidikan for-mal yang pernah dicapai responden berdasarkan ke-pemilikan ijazah terakhir sampai di wawancara Kuesioner 1 : SD

 

2 : SLTP

3 : SLA

4 : PT

Ordinal

 

Pekerjaan Aktivitas yang dilakukan diluar rumah dengan pendapatan yang dinyatakan deng-an uang Kuesioner 1 : Tidak bekerja

 

2 : Bekerja

Nominal

 

Paritas Jumlah anak yang pernah dilahirkan ibu Kuesioner 1 : Melahirkan 1X

 

2 : Melahirkan 2-4 X

3 : Melahirkan >5 X

Ordinal

 

Sumber Informasi Sumber informasi tentang tanda bahaya kehamilan Kuesioner 1 : Tenaga Kesehatan

 

2 : Masyarakat

3 : Media Cetak / Elektronik

Ordinal

III.4.    Populasi Penelitian

Populasi adalah sekumpulan kasus yang memenuhi syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian . Populasi adalah setiap subjek penelitian yang mermenuhi karakteristik yang telah ditentukan (Notoatmodjo, 2002).

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang ada di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Karangbendo Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar. Periode bulan Juli 2008 s/d bulan Desember 2008 sejumlah 42 orang.

III.5. Sampel, besar Sampel dan Cara Pengambilan Sampel

III.5.1. Sampel

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005). Adapun penentuan sampel didasarkan atas kriteria inklusi. Kriteria Inklusi merupakan persyaratan umum yang harus dipenuhi oleh subyek agar dapat diikutsertakan sebagai sumber data dalam penelitian. Adapun kriteria inklusi pada penelitian ini adalah:

  1. Ibu hamil yang datang berkunjung ke puskesmas dan posyandu di wilayah kerja Pustu Karangbendo.
  2. Ibu hamil yang datang berkunjung ke puskesmas dan posyandu di wilayah kerja Pustu Karangbendo yang dapat membaca dan menulis.
  3. Ibu hamil yang datang berkunjung ke puskesmas dan posyandu di wilayah kerja Pustu Karangbendo yang tidak mempunyai gangguan pendengaran dan penglihatan.
  4. Ibu hami yang bersedia menjadi responden

Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah :

  1. Ibu hamil yang tidak ada ditempat atau sedang sakit pada waktu pengumpulan data.
  2. Ibu hamil yang tidak mau menjadi responden.

III.5.2. Besar Sampel

Besar sample merupakan banyak anggota yang dijadikan sample. Sampel adalah sebagian dari populasi yang dipilih dengan cara tertentu hingga dianggap mewakili populasinya (Notoatmodjo, 2002).

III.5.3. Cara Pengambilan Sampel

Tekhnik pengambilan sampel dengan cara “quota sampling” yaitu pengambilan sampel dengan cara menetapkan sejumlah anggota sample secara quoturn atau jatah. Adapun alasan peneliti mengambil cara ini adalah populasi sebagai estimasi yang diambil yaitu pada bulan Desember 2008. Dengan rumus perhitungan menurut Notoatmodjo, (2002) sebagai berikut:

n      =          N  /     N (dxd) + 1

n      =          42 /      42 (0,01) + 1

n      =          42 : 1,42

n      =          29,57 (dibulatkan menjadi 30 )

Keterangan :

N  = Besar populasi

n   =  Besar Sampel

d        = Tingkat Kepercayaan yang diinginkan (0,1) Notoatmodjo, 2002). Berdasarkan perhitungan di atas, didapatkan jumlah sampel sebesar 30 orang .

III.6.    Lokasi dan waktu Penelitian

III.6.1.         Lokasi penelitian dilakukan di Puskesmas Pembantu Karangbendo Kabupaten Blitar dengan pertimbangan wilayah kerjanya luas .

III.6.2.    Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan mulai tanggal bulan Maret 2009 sampai dengan bulan Mei 2009.

III.7     Teknik Pengumpulan Data dan Prosedur Penelitian

III.7.1.    Tekhnik Pengumpulan Data

Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner yang telah dibuat oleh peneliti dengan mengacu pada kerangka konsep ke dalam bentuk pertanyaan tertutup dengan memilih alternatif jawaban yang disediakan. Pengambilan data dilakukan setelah ibu diberi penjelasan telebih dahulu mengenaii tujuan dan tata kerja penelitian serta bersedia untuk dijadikan sampel penelitian. Ibu kemudian diminta untuk mengisi dengan lengkap kuesioner yang telah disediakan.

Tata cara peneltian adalah selama pengambilan data, peneliti mendampingi ibu agar dapat memberikan penjelasan terhadap pertanyan yang tidak dimengerti oleh ibu. Peneliti memeriksa kembali kelengkapan jawaban dari kuesioner yang telah diisi ibu.

III.7.2.   Prosedur Penelitian

Sebelum dilakukan pengolahan data, variabel penelitian diberikan skor dengan bobot jawaban pada tiap pilihan jawaban dari pernyataan yang disediakan. Pengolahan data yang dilakukan dengan tahap sebagai berikut:

  1. a. Editing:

Melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan dan kejelasan jawaban kuesioner dan penyesuaian data yang diperoleh dengan kebutuhan penelitian hal ini dilakukan di lapangan sehingga apabila terdapat data yang meragukan ataupun salah maka akan dijelaskan lagi ke responden.

  1. b. Coding

Mengkode data merupakan kegiatan mengklasifikasikan data memberi kode untuk masing-masing kelas terhadap data yang diperoleh dan sumber data yang telah diperiksa kelengkapannya

  1. c. Skoring

Pertanyaan yang diberikan skor hanya pertanyaan yang berhubungan dengan pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan, tahap ini meliputi nilai untuk masing- masing pertanyaan dan penjumlahan hasil skoring dari semua pertanyaan.

  1. d. Entry

Data yang sudah diberi kode kemudian dimasukkan ke dalam komputer.

  1. e. Cleaning

Merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang dimasukan dilakukan bila terdapat kesalahan dalam memasukan data yaitu dengan melihat distribusi frekuensi dari variabel-variabel yang diteliti.

III.7.3.   Tehnik Analisa Data

Analisa data yang akan digunakan adalah analisa secara univariat yaitu distribusi frekuensi dari masing masing variabel, dan analisis tabulasi  silang yang betujuan untuk menganalisis distribusi frekuensi pengetahuan berdasarkan karasteristik ibu Dimana hasil penelitian dilakukan interpretasi data dari item pertanyaan dengan cara menghitung presentase jawaban. Selanjutnya untuk setiap item yang dijawab diberi nilai sesuai dengan katagori yang telah ditentukan. Adapun untuk pengolahan data pengetahuan menggunakan presentase dengan rumus:

P= (a/b) x 100%

Keterangan :

P : Persentase

a : Jumlah pertanyaan yang dijawab benar.

b : Jumlah semua pertanyaan.

Alasan menggunakan rumus ini, karena jawaban setiap responden berbeda dan dihitung berdasarkan setiap jawaban, kemudian interprestasi data dari hasil penelitian dikelompokkan dalam 3 kategori, yang mengacu pada teori Arikunto (2003), yaitu :

1. Baik : Bila pertanyaan dijawab benar oleh ibu 76% – 100%

2. Cukup : Bila pertanyaan dijawab benar oleh ibu 56% – 75%

3. Kurang : Bila pertanyaan dijawab benar oleh ibu <56%

III.8.        Etika penelitian

Dalam melakukan penelitian, peneliti mengajukan permohonan ijin kepada Kepala Puskesmas Ponggok Kabupaten Blitar . Kemudian kuesioner dikirim ke subyek yang diteliti dengan menekankan masalah etika yang meliputi :

III.8.1. Lembar Persetujuan (Informconsent)

Lembar persetujuan diedarkan kepada responden dengan memberi penjelasan tentang maksud dan tujuan penelitian yang akan dilakukan, serta menjelaskan manfaat yang akan diperoleh bila bersedia menjadi responden. Tujuan responden agar mengetahui dampak yang akan terjadi selama pengumpulan data. Jika subyek bersedia menjadi responden, maka harus menandatangani lembar persetujuan .

III.8.2. Tanpa nama

Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden, peneliti tidak mencantumkan nama subyek pada lembar pengumpulan data yang diisi oleh subyek dan berisi nomer dan kode tertentu.

III.8.3. Kerahasiaan (confidentiality)

Kerahasiaan subyek dijamin oleh peneliti. Hanya kelompok data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil penelitian.

II.8.4. Keterbatasan penelitian

  1. Instrumen pengumpulan data dirancang sendiri oleh peneliti, oleh karena itu validitas dan reabilitasnya masih perlu diuji.
  2. Pengumpulan data dalam kuesioner menggunakan pertanyaan tertutup, sehingga menimbulkan presepsi yang berbeda sehingga hasilnya kurang mewakili secara kuantitatif.

Peringatan Hari Pangan Sedunia di Karangbendo

herri nugroho

Bapak Bupati Herri nugroho

Pada tanggal 20 Oktober 2009, dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia, Pemerintah kabupaten Blitar mengadakan acara Bakti social Dinas Kesehatan dengan pelayanan gratis bagi Lansia dan Balita  dan Kawin Suntik Gratis bagi sejumlah sapi yang telah siap kawin dan Lomba menu makanan yang terbuat dari bukan Beras dalam rangka menghadapi krisis pangan yang dihadiri oleh bapak Herri Nugroho Bupati Blitar yang diadakan di Desa Karangbendo Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar yang diikuti oleh wakil dari seluruh kecamatan se kabupaten Blitar

Persiapan “hari pangan sedunia”

PHOT0082Desa Karangbendo ketiban sampur untuk jadi tuan rumah lomba olah makanan non beras se kabupaten Blitar di Lapangan Sadeng Tegalrejo desa karangbendo Kabupaten Blitar 20 Oktober 2009.

…….

Cara Merawat Belimbing

Sepintas hamparan 1.200 pohon belimbing di sebuah kebun di Lampung itu menyedihkan. Tinggi tanaman berumur 14 tahun hanya 1,7-2 m. Batang dan percabangan yang minim daun merebah. Mirip pohon sakit dan kurang hara. Namun, di mata Ir AF Margianasari, pakar buah di Taman Wisata Mekarsari, Bogor, pemandangan itu istimewa. ‘Buah mudah dibungkus dan dipanen. Perawatan pohon pun gampang,’ katanya. Itulah suasana kebun belimbing Margo Farm milik Kasem Usman di Kalianda, Lampung Selatan. Dari pohon pendek berbatang rebah itu dipanen 0,5-1 ton buah bintang yang dikirim ke toko buah modern di Jakarta. ‘Panen diatur seminggu 2 kali. Setiap periode berbuah, 1 pohon mampu menghasilkan 20-30 kg,’ kata Kasem. Bobot dan ukuran buah diatur dengan penjarangan sehingga bobotnya 300-500 g per buah. Menurut Margianasari pada belimbing berbatang pendek pengaturan panen, bobot buah, dan kontrol kualitas memang mudah dilakukan. ‘Pembungkusan buah mudah. Pengecekan juga gampang karena perawat tak perlu susah payah memanjat,’ kata Riris, sapaan akrab Margianasari. Pemandangan yang mirip dengan kebun Kasem, juga ditemukan di Pingtung, Taiwan Selatan. Pada 2003 Dr Ir Mohamad Reza Tirtawinata MS, pakar buah di Bogor, melihat pekebun di sana menjulurkan cabang belimbing secara horizontal. Cabang dan dahan Avervhoa carambola dirambatkan pada para-para berketinggian 2,5-2,75 m. Para-para dibuat dengan kawat besi yang disangga tiang beton (baca Para-para untuk Carambola, Trubus September 2003). Pangkas rutin Menurut Kasem, membuat belimbing bercabang horizontal mesti dilakukan sejak tanaman muda. Batang utama bibit asal okulasi berumur 6 bulan dipangkas dan disisakan 20 cm. Dari bawah potongan itu muncul 2-3 cabang yang tetap dipertahankan. Cabang itu dipangkas dengan menyisakan 20 cm. Pemangkasan terus dilakukan dan percabangan diarahkan secara horizontal. Caranya dengan mengikat cabang pada bambu atau kayu. Tunas air (tunas tak produktif, red) yang umumnya tumbuh secara vertikal dibuang. Dengan cara itu praktis tak ada batang utama yang tumbuh vertikal. Artinya, tanaman lebih mudah menerima sinar matahari. ‘Meski daun sedikit, tapi optimal berfotosintesis. Bandingkan dengan tajuk yang terlalu rimbun. Daun bagian dalam ternaungi dan tak produktif mengolah makanan,’ ujar Kasem yang juga pekebun durian itu. Belimbing berumur 1 tahun dari bibit okulasi mulai belajar berbuah. Pada umur 3-4 tahun tinggi pohon mencapai 2 m. Saat itulah pemangkasan rutin dan perompesan bunga untuk pengaturan buah mulai dilakukan. Menurut Margianasari, dengan teknik ala Kasem buah muncul hanya dari batang dan cabang produktif. ‘Kualitas buah lebih unggul,’ katanya. Itu berbeda dengan buah yang muncul dari ujung ranting pada tanaman yang dibiarkan meninggi. Ukuran buah kecil. Letaknya yang jauh dari batang utama membuat pasokan nutrisi untuk perkembangan buah lebih sedikit. Hormon bunga Teknik mengarahkan pertumbuhan batang dan cabang secara horizontal sebetulnya banyak dilakukan pada tanaman buah lain. Misal, pada jambu getas untuk merangsang keluarnya tunas bunga. ‘Dengan posisi mendatar, maka apikal dominan dihambat untuk mencapai keseimbangan distribusi hormon. Interaksi beberapa hormon dengan karbohidrat juga memicu aktivitas hormon pembungaan. Pembungaan akan diperkuat apabila tanah di bawah tajuk pohon cepat kering terkena cahaya matahari, sehingga tanaman kekurangan air,’ tutur Reza. Itulah sebabnya, meski panen 3 kali setahun, Kasem masih tetap memanen saat bukan musim. ‘Volume panen memang hanya setengah, tapi tetap menguntungkan karena kontinuitas panen tetap terjaga,’ tuturnya. Toh, teknik budidaya ala Kasem juga mempunyai kelemahan. Selama 11 tahun batang dan cabang yang sama memunculkan buah terus-menerus setiap musim. ‘Tanaman bisa stres bila digenjot seperti itu,’ kata Margianasari. Kendala itu bisa diatasi dengan membuat program pemulihan tanaman. Caranya, setiap pohon secara rutin, misal 2-3 tahun sekali, diistirahatkan berbuah dengan membuang semua bunga yang muncul. Cabang tua dan sakit dipangkas. Berbarengan dengan itu pada musim penghujan dibenamkan pupuk kandang sebagai sumber energi. Di saat itulah pertumbuhan vegetatif belimbing dipertahankan. Cabang baru yang muncul dipilih yang produkSepintas hamparan 1.200 pohon belimbing di sebuah kebun di Lampung itu menyedihkan. Tinggi tanaman berumur 14 tahun hanya 1,7-2 m. Batang dan percabangan yang minim daun merebah. Mirip pohon sakit dan kurang hara. Namun, di mata Ir AF Margianasari, pakar buah di Taman Wisata Mekarsari, Bogor, pemandangan itu istimewa. ‘Buah mudah dibungkus dan dipanen. Perawatan pohon pun gampang,’ katanya. Itulah suasana kebun belimbing Margo Farm milik Kasem Usman di Kalianda, Lampung Selatan. Dari pohon pendek berbatang rebah itu dipanen 0,5-1 ton buah bintang yang dikirim ke toko buah modern di Jakarta. ‘Panen diatur seminggu 2 kali. Setiap periode berbuah, 1 pohon mampu menghasilkan 20-30 kg,’ kata Kasem. Bobot dan ukuran buah diatur dengan penjarangan sehingga bobotnya 300-500 g per buah. Menurut Margianasari pada belimbing berbatang pendek pengaturan panen, bobot buah, dan kontrol kualitas memang mudah dilakukan. ‘Pembungkusan buah mudah. Pengecekan juga gampang karena perawat tak perlu susah payah memanjat,’ kata Riris, sapaan akrab Margianasari. Pemandangan yang mirip dengan kebun Kasem, juga ditemukan di Pingtung, Taiwan Selatan. Pada 2003 Dr Ir Mohamad Reza Tirtawinata MS, pakar buah di Bogor, melihat pekebun di sana menjulurkan cabang belimbing secara horizontal. Cabang dan dahan Avervhoa carambola dirambatkan pada para-para berketinggian 2,5-2,75 m. Para-para dibuat dengan kawat besi yang disangga tiang beton (baca Para-para untuk Carambola, Trubus September 2003). Pangkas rutin Menurut Kasem, membuat belimbing bercabang horizontal mesti dilakukan sejak tanaman muda. Batang utama bibit asal okulasi berumur 6 bulan dipangkas dan disisakan 20 cm. Dari bawah potongan itu muncul 2-3 cabang yang tetap dipertahankan. Cabang itu dipangkas dengan menyisakan 20 cm. Pemangkasan terus dilakukan dan percabangan diarahkan secara horizontal. Caranya dengan mengikat cabang pada bambu atau kayu. Tunas air (tunas tak produktif, red) yang umumnya tumbuh secara vertikal dibuang. Dengan cara itu praktis tak ada batang utama yang tumbuh vertikal. Artinya, tanaman lebih mudah menerima sinar matahari. ‘Meski daun sedikit, tapi optimal berfotosintesis. Bandingkan dengan tajuk yang terlalu rimbun. Daun bagian dalam ternaungi dan tak produktif mengolah makanan,’ ujar Kasem yang juga pekebun durian itu. Belimbing berumur 1 tahun dari bibit okulasi mulai belajar berbuah. Pada umur 3-4 tahun tinggi pohon mencapai 2 m. Saat itulah pemangkasan rutin dan perompesan bunga untuk pengaturan buah mulai dilakukan. Menurut Margianasari, dengan teknik ala Kasem buah muncul hanya dari batang dan cabang produktif. ‘Kualitas buah lebih unggul,’ katanya. Itu berbeda dengan buah yang muncul dari ujung ranting pada tanaman yang dibiarkan meninggi. Ukuran buah kecil. Letaknya yang jauh dari batang utama membuat pasokan nutrisi untuk perkembangan buah lebih sedikit. Hormon bunga Teknik mengarahkan pertumbuhan batang dan cabang secara horizontal sebetulnya banyak dilakukan pada tanaman buah lain. Misal, pada jambu getas untuk merangsang keluarnya tunas bunga. ‘Dengan posisi mendatar, maka apikal dominan dihambat untuk mencapai keseimbangan distribusi hormon. Interaksi beberapa hormon dengan karbohidrat juga memicu aktivitas hormon pembungaan. Pembungaan akan diperkuat apabila tanah di bawah tajuk pohon cepat kering terkena cahaya matahari, sehingga tanaman kekurangan air,’ tutur Reza. Itulah sebabnya, meski panen 3 kali setahun, Kasem masih tetap memanen saat bukan musim. ‘Volume panen memang hanya setengah, tapi tetap menguntungkan karena kontinuitas panen tetap terjaga,’ tuturnya. Toh, teknik budidaya ala Kasem juga mempunyai kelemahan. Selama 11 tahun batang dan cabang yang sama memunculkan buah terus-menerus setiap musim. ‘Tanaman bisa stres bila digenjot seperti itu,’ kata Margianasari. Kendala itu bisa diatasi dengan membuat program pemulihan tanaman. Caranya, setiap pohon secara rutin, misal 2-3 tahun sekali, diistirahatkan berbuah dengan membuang semua bunga yang muncul. Cabang tua dan sakit dipangkas. Berbarengan dengan itu pada musim penghujan dibenamkan pupuk kandang sebagai sumber energi. Di saat itulah pertumbuhan vegetatif belimbing dipertahankan. Cabang baru yang muncul dipilih yang produktif dan di arahkan secara horizontal. Dengan cara itu pohon tetap pendek, tumbuh horizontal, tapi tetap sehat. Buah yang dihasilkan pun gemuk. (Destika Cahyana/Peliput: Niken Anggrek Wulan dan Nesia Artdiyasa)tif dan di arahkan secara horizontal. Dengan cara itu pohon tetap pendek, tumbuh horizontal, tapi tetap sehat. Buah yang dihasilkan pun gemuk. (Destika Cahyana/Peliput: Niken Anggrek Wulan dan Nesia Artdiyasa)

belimbing

MEMBUAHKAN BELIMBING MANIS

Belimbing manis (Averhoa carambolla), adalah buah yang penggemarnya cukup banyak. Di Malaysia, komoditas ini sudah dibudidayakan secara komersial dan hasilnya diekspor. Di Indonesia, budidaya belimbing dalam skala komersial belum dilakukan. Yang ada masih kebun-kebun rakyat yang dikelola secara tradisional. Akhir-akhir ini keberadaan belimbing manis di pasar swalayan serta kios buah sudah relatif kontinu, dibanding dengan 5 sd. 10 tahun yang lalu. Ini merupakan indikator bahwa teknologi budidaya belimbing sudah relatif dikuasai oleh masyarakat. Faktor utama yang akan menentukan sukses tidaknya budidaya belimbing adalah pengairan, pemupukan, pemangkasan dan pembungkusan. Sebab kendala hama serta penyakit tanaman tidak akan terlalu mengganggu tanaman belimbing. Satu-satunya hama yang akan mengganggu adalah lalat buah, yang oleh masyarakat, larvanya disebut sebagai “ulat” yang akan merusak buah belimbing.

Varietas belimbing manis yang ada di negeri kita cukup banyak. Di antaranya demak kapur, demak kunir, pasar minggu, dewi, wulan, bangkok, paris, sembiring, malaya, penang, filipin, brasil dll. Meskipun disebut sebagai bangkok, paris, filipin dll. tetapi varietas tersebut tidak ada kaitannya dengan kota atau negara bersangkutan. Belimbing paris misalnya, merupakan varietas asli Pasar Minggu, Jakarta selatan. Nama paris sendiri berasal dari kata belimbing (Pa)-sar Minggu yang la-(ris). Varietas-varietas lain merupakan seleksi dari belimbing yang tumbuh secara alamiah di pekarangan penduduk. Beberapa di antaranya merupakan hasil pemuliaan melalui persilangan. Misalnya belimbing wulan yang merupakan hasil silangan Subandi dari Madiun atau belimbing sembiring yang merupakan hasil silangan Sembiring dari Sumatera Utara.

Faktor pengairan menjadi sangat penting di lokasi penanaman dengan air tanah dalam. Tanaman belimbing yang sudah berumur di atas 5 tahun, perakarannya memang bisa mencapai lapisan tanah yang masih cukup mengandung air pada musim kemarau. Namun produktivitas tanaman akan menurun pada musim kemarau ini. Beda dengan belimbing yang ditanam di areal dengan air tanah dangkal. Misalnya di kawasan Kab. Demak, Jateng. Meskipun kawasan ini tanahnya berpasir, namun air tanahnya sangat dangkal. Pada musim kemarau yang sangat panjang sekalipun, kedalaman air tanah hanya sekitar 1,5 sd. 2 meter. Di kawasan seperti ini, tanaman belimbing tidak memerlukan pengairan secara khusus. Kecuali pada tanaman dengan umur di bawah 5 tahun. Pada tahun-tahun awal ini tanaman muda mutlak memerlukan pengairan. Sumber air paling murah adalah dari sumur dangkal (sumur pantek) yang dinaikkan dengan pompa sedot porttable. Biaya investasi dan modal kerja untuk pengairan ini hanya sekitar Rp 3.000.000,- sd. Rp 4.000.000,- per hektar sampai dengan tanaman cukup kuat tanpa perlu pengairan khusus.

Pemupukan belimbing manis dengan NPK 16-16-16 atau lebih baik lagi dengan NPK 19-19-19, akan menjamin kontinuitas, kuantitas serta kualitas produksi. Belimbing merupakan salah satu buah yang bisa berproduksi sepanjang tahun tanpa musim. Dengan catatan, suplai haranya terjamim. Dengen pemberian NPK antara 1 sd. 2 kg. per tanaman per tahun, maka kontinuitas produksi akan terjamin. Meskipun bisa berbuah sepanjang tahun tanpa henti, sebenarnya belimbing tetap memiliki siklus panen raya dan kosong tanpa buah. Siklus penen raya ini bisa berlangsung sampai 3 periode. Namun tanaman akan terkuras energinya hingga pada panen berikutnya kualitas serta kuantitas buah akan menurun. Karenanya, belimbing cukup diprogram untuk bisa panen raya dua kali. Caranya dengan kombinasi perlakuan pemupunan, pengairan dan pemangkasan. Biasanya petani belimbing memprogram tanaman mereka pohon demi pohon atau petak demi petak. Di perkebunan besar seperti yang terdapat di Malaysia, saat panen diatur petak demi petak. Artinya, tiap individu tanaman memang hanya diprogram untuk panen raya sebanyak 2 X. Namun seluruh kebun tersebut bisa diatur untuk bisa terus-menerus dipanen setiap hari sepanjang tahun. Pemupukan dengan NPK juga akan bisa memperbesar ukuran buah, mempermanis dan menciptakan daging buah dengan tekstur lebih renyah.

Belimbing menghendaki stress air untuk berbunga. Hingga pengaturan saat berbunga, lebih mudah dilaksanakan di kawasan kering daripada di kawasan basah. Itulas sebabnya sentra penghasil belimbing rata-rata berada di kawasan kering. Misalnya di Demak. Tuban dan Madiun. Idealnya pengairan dilakukan dengan sistem tetes (drip). Tetapi sistem ini relatif mahal. Hingga untuk kondisi Indonesia, pengairan dengan sistem siram maupun genangan masih tetap lebih murah. Sistem siram digunakan apabila debit air kecil, sementara tenaga kerja murah. Sistem genangan dilakukan apabila debit air besar tetapi tenaga kerja mahal. Satu individu tanaman, pada musim kemarau yang berlangsung antara 7 sampai 9 bulan (sesuai kondisi agroklimat yang dikehendaki belimbing), memerlukan air sekitar 10.000 sd. 15.000 liter atau 10 sd. 15 m3 (2 X 2 X 2,5 m. atau  3 X 2 X 2,5 m). Sebab untuk bisa tetap produktiv, satu tanaman belimbing dewasa memerlukan 50 liter air per hari selama musim kemarau. Keperluan air ini menjadi mutlak untuk kawasan dengan air tanah lebih dalam dari 3 m. Tetapi menjadi tidak perlu apabila air tanah kurang dari 2 m.

Pemangkasan tanaman belimbing akan sangat berpengaruh terhadap kuantitas dan terutama kualitas buah. Pemangkasan dilakukan dengan memelihara salah satu tunas air pada cabang tertentu, lalu setelah tunas air tersebut mencapai ukuran kelingking, cabang dipotong. Dengan demikian, ranting-ranting belimbing selalu dalam keadaan muda. Ranting yang muda ini akan menghasilkan daun yang lebih sehat dan lebar hingga bisa berfotosintesis dengan lebih optimal. Karena rantingnya muda, bunga akan cenderung tumbuh pada dahan utama atau malahan pada batang. Bunga betina yang tumbuh pada dahan utama ini akan menghasilkan buah dengan ukuran lebih besar daripada yang tumbuh pada ranting. Tumbuhnya bunga pada cabang utama serta batang, juga dipacu oleh sinar matahari. Pemangkasan akan mengakibatkan sinar matahari bisa langsung mengenai cabang utama serta batang. Kalau cabang utama serta batang itu terkena sinar matahari langsung, bunga akan segera tumbuh. Ranting-ranting muda tadi tidak akan sempat menumbuhkan bunga dalam jumlah banyak, karena fase pertumbuhan vegetatifnya masih berlangsung. Tumbuhnya buah pada cabang utama serta batang, sekaligus juga akan memudahkan upaya pembungkusan.

Banyak bahan yang bisa dimanfaatkan untuk membungkus buah belimbing.  Perkebunan star fruits di Malaysia menggunakan kombinasi  kantong plastik bening dengan kertas koran sebagai pembungkus buah. Plastik bening ditaruh di bagian dalam, sementara kertas korannya di bagian luar dengan bagian bawah terbuka. Kombinasi dua bahan pembungkus ini diperlukan dengan beberapa alasan. Kalau pembungkusnya hanya plastik bening, maka sinar matahari tetap akan menembus masuk ke dalam kantong.  Akibatnya, buah muda bisa “hangus” dan rontok. Kalau buah ini selamat menjadi besar, maka warnanya akan kuning tua dan kurang menarik karena terkena sinar matahari langsung. Apabila pembungkusnya hanya kertas koran dan tidak tertutup rapat, maka ada kemungkinan penggerek buah tetap akan bisa menembus masuk dan merusak buah muda. Penggerek buah adalah kumbang kecil yang akan “mengebor” buah muda hingga busuk dan rontok. Sementara lalat buah hanya akan menyerang buah tua menjelang masak. Tetapi kalau kertas korannya membungkus dengan rapat, maka petugas kebun sulit untuk mengontrol mana buah yang siap petik dan mana yang belum.  Dengan kombinasi dua bahan pembungkus ini, penggerek, lalat buah dan sinar matahari sulit menembus masuk. Sementara petugas kebun tetap mudah mengontrol buah yang sudah masak dan siap petik. Setelah dipetik, kertas koran dibuang hingga belimbing dengan bungkus plastiknya yang masih sangat bersih karena terlindung koran, bisa siap untuk dipasarkan.

Di Indonesia, sangat banyak variasi pembungkus buah belimbing. Di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, para petani membungkus belimbing mereka dengan kombinasi daun pisang kering di bagian luar, dengan kertas karbon (bekas) di bagian dalamnya. Kertas karbon dimaksudkan untuk mencegah agar sinar matahari benar-benar tidak tembus. Sementara daun pisang kering dipilih karena harganya yang murah. Tetapi sekarang orang tidak lagi mengetik dengan masin ketik manual dan karbon, melainkan dengan komputer. Hingga mencari karbon bekas tentu tidak semudah pada era tahun 1960an. Daun pisang kering juga menjadi semakin langka dan mahal. Sekarang masyarakat Pasar Minggu membungkus belimbing mereka dengan kertas koran bekas. Sementara di Kab. Demak, Jateng, petani membungkus belimbing mereka dengan daun jati. Bahan pembungkus ini dipilih karena di kawasan tersebut bisa diperoleh dengan mudah dan harga murah. Di Sumatera Selatan, para petani membungkus belimbing mereka dengan kantong kresek. Berbagai warna kantong kresek telah mereka coba hingga diperoleh hasil yang optimal. (R) * * *

Tenang

Terapi Dzikir

Menurut hasil penelitian Alvan Goldstein, ditemukan adanya zat endorphin dalam otak manusia, yaitu suatu zat yang memberikan efek menenangkan yang disebut endogegonius morphin. Drs Subandi menjelaskan, bahwa kelenjar endorfina dan enkefalina yang dihasilkan oleh kelenjar pituitrin di otak ternyata mempunyai efek mirip dengan opiat (candu) yang memiliki fungsi menimbulkan kenikmatan (Pleasure principle), sehingga disebut opiate endogen. Apabila seseorang dengan sengaja memasukkan zat morphin ke dalam tubuhnya, maka akan terjadi penghentian produksi endorphin. Pada pengguna Narkoba, apabila dilakukan penghentian morphin dari luar secara tiba-tiba, orang akan mengalami Sakaw (ketagihan yang menyiksa dan gelisah) karena otak tidak lagi memproduksi zat tersebut. Untuk mengembalikan produksi endorphin di dalam otak bisa dilakukan dengan Meditasi, sholat yang benar atau melakukan Dzikir-dzikir yang memang banyak memberikan ketenangan.

Dr. R. H. Su�dan M.D, S.K.M : �Penyimpangan seks seperti hiperseks, lesbian, homoseks, masochisme dan lain sebagainya dapat sembuh dengan dzikrulloh (mengingat Allah). Juga penyimpangan jiwa lainnya seperti psychopatia semacam kleptomania atau suka mencuri, penyakit jiwa karena stress atau ketegangan hidup yang berlebihan. Apalagi kalau hanya penyakit psikosomatik, mudah sekali ditanggulangi dengan dzikrulloh. Bahkan penyakit jiwa yang sebenarnya seperti psychosis pun dapat diselesaikan dengan dzikrulloh pula.

Kalaulah kita mau melatih diri untuk berdzikir dengan tenang, serta berpikir luas, maka tentu semakin tampak jelas betapa agungnya Allah SWT. dan betapa luar biasa kasih sayang-NYA.

(Drs. KH. M. Djufri Raksana. M. Si. Pusat Studi Islam dan filsafat-UMM/mantan bid. Penerangan Agama, Depag-Jawa Timur)

DR. Aidh al-Qarni menulis dalam bukunya yang berjudul LA TAHZAN (JANGAN BERSEDIH!) : ketika laut bergemuruh, ombak menggunung, dan angin bertiup kencang menerjang, semua penumpang kapal akan panik dan menyeru : �Ya Allah!�. Ketika seseorang tersesat di tengah gurun pasir, kendaraan menyimpang jauh dari jalurnya, dan para kafilah bingung menentukan arah perjalanannya, mereka akan menyeru : �Ya Allah!�. ketika musibah menimpa, bencana melanda, dan tragedi terjadi, mereka yang tertimpa akan selalu berseru : �Ya Allah!�. Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan terasa menyempit, harapan terputus, dan semua jalan pintas membuntu, mereka pun menyeru : �Ya Allah!�. Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup, dan jiwa serasa tertekan oleh beban berat kehidupan yang harus Anda pikul, menyerulah : �Ya Allah!�. Setiap ucapan baik, doa yang tulus, rintihan yang jujur, air mata yang menetes penuh keikhlasan, dan semua keluhan yang menggundahgulanakan hati adalah hanya pantas ditujukan ke hadirat- NYA. Setiap dini hari menjelang, tengadahkan kedua telapak tangan, julurkan lengan penuh harap, dan arahkan terus tatapan matamu ke arah-NYA untuk memohon pertolongan! Ketika lidah bergerak, tak lain hanya untuk menyebut, mengingat dan berdzikir dengan nama-NYA. Dengan begitu, hati akan tenang, jiwa akan damai, syaraf tak lagi menegang, dan iman kembali berkobar-kobar.

Ibnu Al-Qoyyim Al-Jauziyah menulis dalam bukunya yang berjudul �Metode Pengobatan Nabi SAW.� : �Kiat lain terhadap musibah adalah dengan menyadari bahwa yang memberi musibah kepadanya itu adalah Allah yang Maha Bijaksana, Rabb dari segala Makhluk yang Bijak, Ar-Rahman (Maha Penyayang), Rabb dari segala Makhluk yang penuh rahmat. Dan juga menyadari bahwa Allah mengirimkan musibah itu kepadanya bukan untuk membinasakannya, bukan untuk menyiksanya dan juga bukan untuk menyakitinya. Tetapi Allah memberikan cobaan itu untuk menguji kesabaran, keridhaan dan keimanannya. Agar Allah mendengar do�a dan penyerahan dirinya kepada-NYA, agar ia bersimpuh di depan pintu-NYA; dengan mengharapkan rahmat-NYA, memasrahkan kehancuran hatinya di hadapan-NYA, dan menyampaikan keluh kesah kepada-NYA. Kalau Allah tidak mengobati para hamba-NYA melalui cobaan dan bala, niscaya mereka akan melampaui batas, berbuat semena-mena dan tidak mengenal aturan�.

William James berujar, �Penderitaan telah membantu kita untuk mencapai suatu batas yang tidak pernah terbayangkan. Andaikata Dostoyevsky dan Leo Tolstoy tidak mengalami kehidupan yang pahit, keduanya tak akan sukses menulis memoar dan novel-novel yang mengagumkan dan abadi hingga saat ini�. Dengan demikian, keyatiman; kebutaan; pengasingan; dan kemiskinan adalah salah satu sebab tumbuhnya kreativitas, produktivitas, kemajuan dan kontribusi.

Cara Mudah Belaja Bahasa Inggris Anak-Anak

5 Cara Termudah Belajar Bahasa Inggris Bagi Anak

In: Belajar

11 Feb 2009

Sumber gambar : Dictionary by Jovike

Teman-teman pernah ngerasa kesulitan belajar bahasa Inggris ? Nilai bahasa Inggris di rapot jelek ? Jangan khawatir, di tulisan kali ini, kakak Fadli akan membagikan tips gimana caranya agar kalian bisa belajar bahasa Inggris dengan mudah dan nyenengin. Sebelum nulis ini kakak udah mencoba tips-tips ini loh. Dan Alhamdulillah berhasil. Jadi rasanya sayang kalau tips ini cuma mengendap di otak kakak saja, makanya kakak akan membaginya di blog ini.

Kenapa sih harus bisa bahasa Inggris ?

Hmm.. seperti yang kita tahu, bahasa Inggris ini menjadi bahasa internasional saat ini. Dan pengetahuan di luar sana masih banyak yang ditulis dalam bahasa Inggris. Nah, kalau ingin pengetahuan kita luas dan tidak hanya itu-itu aja, sebaiknya kita bisa menguasai bahasa ini.

Dengan bahasa Inggris pula kita bisa berkomunikasi dengan temen-temen lain di belahan dunia lain. Kita bisa belajar banyak dari mereka. Budayanya, kebiasaan mereka, ilmu mereka, dan masih banyak hal-hal lainnya yang bisa kita serap. Tapi tentu aja yang kita ambil hanya yang positifnya aja. Tinggalkan aja yang buruk dan ga’ sesuai dengan norma agama dan budaya kita. Ok ?

Nah, setelah udah tahu manfaatnya, sekarang kakak akan bahas satu per satu tipsnya. Dibaca baik-baik ya.

# 1. Jangan dibuat pusing dulu

Kebanyakan dari kita, ketika dihadapkan pada pelajaran bahasa Inggris, langsung mengerutkan dahi. Menganggap pelajaran ini sebagai momok yang menakutkan. Kalau sudah begini, walaupun sebetulnya pelajaran tersebut asyik dan menyenangkan, karena kita sudah men-cap-nya sebagai pelajaran yang menakutkan, maka kita tidak akan pernah bisa menikmati pelajaran itu.

Cobalah teman-teman mulai menyukai bahasa Inggris. Sebagai pembelajar pemula, jangan terlalu pusing dulu dengan penggunaan tata bahasa bahasa Inggris. Ngomong atau tulis aja sesuatu dalam bahasa Inggris terserah kalian. Urusan salah itu nanti belakangan. Yang penting enjoy dulu dengan bahasa Inggrisnya. Bisa kan ?

# 2. Hapal kosa kata

Apapun bahasanya, hal yang terpenting adalah kosa kata. Mau itu bahasa Jawa, Bugis, Indonesia dan Bahasa Inggris sekalipun. Coba ingat ketika teman-teman masih kecil dulu. Apakah teman-teman waktu itu peduli dengan aturan tata bahasa Indonesia yang benar. Ga kan ? Tapi orang dewasa dan teman-teman kita bisa mengerti apa yang kita bicarakan kan ?

Jadi ketika baru belajar Bahasa Inggris, jangan terlalu peduli tata bahasa dulu. Hapalkan saja kosa katanya. Cara untuk menghapal yang mudah adalah dengan menuliskan kata yang akan kita hapal pada selembar kertas kecil seukuran kartu nama. Nah, hapalan tadi bisa kita bawa kemana-mana. Sambil menghapal, sekalian dipraktekkan deh kata tadi dengan ucapan kita.

Bicara dengan diri sendiri juga ga pa pa. Yang penting kalian pede (percaya diri). Tapi jangan sampai dikira orang gila ya. Hehehe.

# 3. Cari lawan bicara

Nah setelah cukup menghapal beberapa kosa kata, cobalah cari orang lain untuk diajak bicara. Bisa bapak atau ibu kita, kakak, teman, atau turis-turis asing yang kebetulan kita temui di jalan. Kakak yakin, mereka akan senang dengan anak-anak yang mau belajar dimana aja.

Kalaupun bahasa Inggris kita masih jelek, jangan takut. Orang yang kita ajak bicara pasti akan mengerti dan mau mengoreksi kesalahan kita. Percaya deh sama kakak.

# 4. Baca tulisan berbahasa Inggris

Nah, kalau ini pasti kalian suka. Baca buku. Tapi kalau selama ini kalian terbiasa membaca buku yang berbahasa Indonesia, coba deh sekali-kali membaca buku-buku berbahasa Inggris. Ga harus tulisan yang berat-berat. Banyak kok di perpustakaan atau toko buku yang menyediakan buku-buku cerita anak bergambar dalam bahasa Inggris.

Kalaupun ada kata yang ga’ dimengerti kalian jangan langsung berhenti. Baca aja terus. Entar kalian akan mendapatkan gambaran umum dari artikel itu. Nah, kalian kan nanti bisa ngira-ngira arti kata yang ga tau tadi.

Soalnya, dalam bahasa itu yang paling penting adalah kita bisa mengerti maksud dari ungkapan bahasa itu. Jadi, kalau ada beberapa kata yang ga dimengerti dan kita mengerti maksud tulisan itu, udah cukup kok.

# 5. Terus menerus

Setelah semua usaha itu kita lakukan, langkah selanjutnya adalah mengulang secara terus menerus. Ya, tanpa pengulangan yang terus menerus, kemampuan kita akan turun. Jangan pernah menyerah dalam belajar apapun. Memang ada saatnya kita lelah belajar sesuatu, tetapi jangan sampai kita tidak belajar sama sekali. Kalaupun lelah, tetaplah mempelajari sesuatu dari yang kita senangi dulu.

Misalnya dengan membaca komik atau bermain bersama teman-teman lainnya. Ketika kita sudah merasa bersemangat, baru kita belajar lagi.

Intinya jangan menyerah ya ! Masa’ anak Indonesia malas-malas ? Ga mau kan ?

Jadi mudahan tips tadi bisa berguna bagi teman. Sesungguhnya, tips tadi ga hanya untuk bahasa Inggris loh. Tips tadi bisa kita gunakan untuk mempelajari semua bahasa asing.

Oh ya, kalian punya tips tambahan. Kakak boleh tahu ? Siapa tahu bisa ngebantu teman-teman lainnya. Kalau ada tulis aja di kolom komentar..

Halaman Berikutnya »