//
you're reading...
Bab I, KTI, warta sekitar

BAB I


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengetahuan tentang kehamilan harus dimiliki ibu hamil untuk dapat menyiapkan fisik maupun mental agar sampai akhir kehamilannya sama sehatnya, bilamana ada kelainan phisik atau psikologis bisa ditemukan dini dan di obati, serta melahirkan tanpa kesulitan dengan bayi yang sehat. Berdasarkan sebuah Konsep Perilaku “K-A-P” (Knoledge-attitude-pracite”), menjelaskan bahwa perilaku seseorang (misalnya perilaku ibu hamil terhadap kepatuhan dalam mememeriksakan kehamilannya) sangat dipengaruhi oleh sikapnya yang mendukung terhadap anjuran memeriksakan kehamilannya. Sikap (attitude) dipengaruhi oleh pengetahuan (knowledge) tentang sesuatu (misalnya pengetahuan manfaat pemeriksaan kehamilan bagi ibu hamil). (Notoatmodjo, 2003 : 121)

Pengetahuan tentang pemeriksan kehamilan yang masih kurang dapat dilihat dari frekuensi kunjungan pemeriksaan selama kehamilan .Sedangkan frekuensi kunjungan pemeriksaan kehamilan dapat ditinjau dari tingkat kepatuhan ibu hamil dalam melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan di tempat pelayanan KIA.

Kepatuhan melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan merupakan salah satu bentuk perilaku seorang ibu hamil. Menurut Lawrence Green, faktor – faktor yang berhubungan dengan perilaku ada 3 yaitu: faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor pendorong. Yang termasuk faktor predisposisi diantaranya : pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, dan nilai. Sedangkan yang termasuk faktor pendukung adalah ketersediaan sarana-sarana kesehatan dan sumber daya, dan yang terakhir yang termasuk faktor pendorong adalah sikap dan perilaku petugas kesehatan (Notoatmodjo, 2003).

Masalah kesehatan ibu dan perinatal merupakan masalah nasional yang perlu mendapat prioritas utama, karena sangat menentukan kualitas sumber daya manusia pada generasi mendatang. Perhatian terhadap ibu dalam sebuah keluarga perlu mendapat perhatian khusus karena Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih sangat tinggi bahkan tertinggi di antara negara-negara Association South East Asian Nation (ASEAN). Dimana AKI saat melahirkan tahun 2005 tercatat 307 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) 35 per 1.000 kelahiran hidup (Azrul Azwar, 2005).

Propinsi Jawa Timur Angka Kematian Bayi (AKB) pada tahun 2004 sebesar 39,60 per 1000 kelahiran hidup dan turun menjadi 36,65 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2005, sedangkan pada tahun 2006 turun lagi menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup (BPS). Secara Nasional pada tahun 2010 akan diproyeksikan menjadi 25,7 per 1000 kelahiran hidup (Sumber : Rencana Pembangunan Kesehatan Tahun 2005-2009).

Selama tahun 2006 dilaporkan terjadi  640.271 kelahiran. Dari seluruh kelahiran, tercatat  2.939  kasus lahir mati  dan kasus kematian bayi sebesar 3.506. AKB sangat penting, karena tingginya AKB menunjukan rendahnya kualitas perawatan selama masa kehamilan , saat persalinan dan masa nifas, status gizi dan penyakit infeksi. Faktor penyebab utamanya adalah kurangnya kepatuhan ibu hahil memeriksakan kehamilannya .

Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat AKB tetapi tidak mudah untuk menemukan faktor yang paling dominan. Salah satu penyebab mengapa Angka Kematian Bayi di Jawa Timur masih cukup tinggi karena sebagian besar masyarakat enggan membawa bayinya yang masih berumur dibawah 1 (satu) bulan kefasilitas kesehatan untuk pemeriksaan kesehatannya.

Di Propinsi Jawa Timur  pada tahun 2006  terdapat   690.282   jumlah ibu hamil, dari sejumlah kelahiran, tercatat  354 kasus kematian ibu maternal,  yang terjadi pada saat  kehamilan 65 orang, kematian pada saat persalinan 221 orang dan kematian ibu nifas 68 orang.

Upaya menurunkan AKI pada dasarnya mengacu kepada intervensi strategis “Empat Pilar Safe Motherhood”, dimana salah satunya yaitu akses terhadap pelayanan pemeriksaan kehamilan yang mutunya masih perlu ditingkatkan terus. Pemeriksaan kehamilan yang baik dan tersedianya fasilitas rujukan bagi kasus risiko tinggi dapat menurunkan angka kematian ibu. Petugas kesehatan seyogyanya dapat mengidentifikasi faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan usia, paritas, riwayat kehamilan yang buruk, dan perdarahan selama kehamilan. Kematian ibu juga diwarnai oleh hal-hal nonteknis yang masuk kategori penyebab mendasar, seperti taraf pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu hamil yang masih rendah, serta ketidak patuhan dalam melakukan pemeriksaan kehamilan dengan melihat angka kunjungan pemeriksaan kehamilan (K4) yang masih kurang dari standar acuan nasional (Prawirohardjo, 2002).

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1457/Menkes/SK/X/2003 tentang standar pelayanan kesehatan minimal di bidang kesehatan di kabupaten atau kota khususnya pelayanan kesehatan ibu dan anak dengan target tahun 2010 : berupa cakupan kunjungan ibu hamil K1 dan K4. K1 yaitu kunjungan ibu hamil yang pertama kali pada masa kehamilan. Cakupan Kl di bawah 70% (dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil dalam kurun waktu satu tahun) menunjukkan keterjangkauan pelayanan antenatal yang rendah, yang mungkin disebabkan oleh pola pelayanan yang belum cukup aktif. Rendahnya K1 menunjukkan bahwa akses petugas kepada ibu masih perlu ditingkatkan. Sedangkan K4 : Kontak minimal 4 kali selama masa kehamilan untuk mendapatkan pelayanan antenatal, yang terdiri atas minimal 1 kali kontak pada trimester pertama, satu kali pada trimester kedua, dan dua kali pada trimester ketiga. Cakupan K4 di bawah 60% (dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil dalam kurun waktu satu tahun) menunjukkan kualitas pelayanan antenatal yang belum memadai . Rendahnya K4 menunjukkan rendahnya kesempatan untuk menjaring dan menangani risiko tinggi obstetric.

Dari hasil study pendahuluan berdasarkan profil kesehatan Propinsi Jawa Timur tahun 2007, didapatkan pencapaian cakupan K4 untuk Propinsi Jawa Timur sebesar 82,74%, sedangkan targetnya 86%. Untuk Kabupaten Blitar pencapaian cakupan K4 sebesar 22,23 %. Cakupan untuk Puskesmas Pembantu Karangbendo K4 sebesar 84 %, dengan target K4 sebesar 95 %.(www.dinkesjatim.go.id, diakses 20 Agustus 2008)

Dari ibu hamil diwawancarai yang dilakukan peneliti di Puskesmas Pembantu Karangbendo tahun 2008, jumlah ibu hamil 106 orang memiliki pengetahuan yang baik, yaitu sebanyak 58 orang (54,70%). Sikap ibu hamil dari seluruh sample memperlihatkan sikap yang mendukung sebanyak 51 orang (48,10%) sedangkan kunjungan pemeriksaan kehamilan yang tinggi sebanyak 61 orang (57,50%). Uji statistic memperlihatkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan ibu hamil dengan kepatuhan kunjungan kehamilan.

Belum tercapainya target K4, salah satunya disebabkan karena pemahaman tentang pedoman Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) khususnya kunjungan pemeriksaan kehamilan masih kurang, sehingga masih ditemukan ibu hamil yang tidak patuh melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan secara teratur.

Diketahui bahwa pemeriksaan kehamilan yang baik sangat diperlukan mengingat dengan pemeriksaan kehamilan yang baik maka akan dapat terdeteksi awal dan terhindar dari resiko berat badan lahir rendah (BBLR), resiko lahir macet, resiko pendarahan, resiko infeksi, eklamsia dan anemia.

Seorang ibu hamil akan melahirkan bayi yang sehat bila telah diketahui tentang usia kehamilan, perkiraan kelahiran, kebersihan dan pakaian, perawatan gigi, imunisasi, gizi dan gejala – gejala lainnya dengan melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan. Data menunjukkan bahwa 25 – 50 % kematian wanita subur usia disebabkan hal bekaitan dengan kehamilan. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi factor utama mortalitas wanita muda pada masa puncak produktifitasnya. (Depkes RI, 2000)

Sebagian besar ibu hamil akan berakhir dengan kelahiran bayi hidup. Karena hal tersebut sifatnya alamiah. Hal ini terlepas dari ibu hamil tersebut dengan patuh melakukan kunjungan pemeriksakan kehamilannya atau tidak memeriksakan kehamilannya. Namun demikian pemeriksaan kehamilan sangat perlu dilakukan utamanya adalah untuk menghindari adanya resiko – resiko selama kehamilan dan proses persalinannya. Hal tersebut dapat dicapai bilamana ada kerjasama yang baik antara ibu hamil dengan bidan. Bidan harus memberikan penyuluhan dan motivasi yang baik tentang manfaat memeriksakan kehamilan, sehingga tercipta sikap dan perilaku yang mendukung terhadap upaya menekan dan atau mengurangi angka kematian ibu dan anak dimasa sekarang dan yang akan datang.

B. Identifikasi Masalah

Penelitian yang dilakukan akhir – akhir ini menunjukan dengan jelas bahwa ibu hamil yang melahirkan dengan tidak memeriksakan kehamilannya baik di KIA Puskesmas, posyandu atau dokter kandungan mengalami resiko melahirkan yang disebabkan oleh tidak terdeteksinya perkembangan dan kondisi ibu hamil selama kehamilan.

Dari uraian tersebut diatas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian di Puskesmas Pembantu Karangbendo Kabupaten Blitar tentang hubungan pengetahuan ibu hamil dengan kepatuhan melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas permasalahan yang timbul dalam penelitian ini adalah : Adakah hubungan antara pengetahuan ibu hamil dengan tingkat kepatuhan dalam melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Pembantu Karangbendo Kabupaten Blitar ?

D. Tujuan Penelitian

  1. Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah : Diketahuinya hubungan pengetahuan ibu hamil dengan kepatuhan kunjungan pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Pembantu Karangbendo Kabupaten Blitar.

  1. Tujuan Khusus

a. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Pembantu Karang Bendo Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar.

b. Mengetahui kepatuhan ibu hamil dalam pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Pembantu Karang Bendo Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi Penulis

Untuk meningkatkan pengetahuan peneliti tentang hubungan tingkat pengetahuan ibu hamil dengan kepatuhan kunjungan kehamilan.

2. Bagi Profesi

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi mengenai hungan pengetahuan ibu hamil dengan kepatuhan melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan , sehingga dapat dipakai sebagai tambahan informasi pada saat melakukan penyuluhan kepada ibu hamil guna meningkatkan pelayanan asuhan kehamilan .

3. Bagi Institusi Pendidikan

Dengan penelitian ini diharapakan dapat memberikan masukan tentang hubungan pengetahuan ibu hamil dengan kepatuhan melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan sehingga dapat dipakai sebagai tambahan informasi dan referensi untuk memperkaya institusi terutama dalam bidang kepustakaan.

4. Bagi Masyarakat

Dari hasil penelitian ini diharapkan pengetahuan masyarakat dapat bertambah terutama bagi ibu hamil tentang manfaat pemeriksaan kehamilan agar ibu hamil dapat mempersiapkan diri menghadapi proses persalinan melalui konsultasi dan kunjungan pemeriksaan kehamilan.

5. Relevansi

Pengetahuan yang kurang baik, sikap yang negative, sumberdaya yang kurang memadai dan dukungan keluarga yang kurang dapat menjadi factor yang menyebabkan ibu hamil tidak melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan.

About Mbah Yat

yatinem ibu 4 orang anak

Diskusi

One thought on “BAB I

  1. kalo kepatuhan ibu hamil yg di teliti, populasi& sampelnya seluruh ibu hamil tampa kecuali ya.trus nelitinya gimana? masak qt neliti 9 bulan dia melakukan kunjungan berapa kali yg sesuai standart. kalo qt hanya di kasih wkt 1 bln tuk meneliti gmn caranya? mhon solusinya?

    Posted by yeni | Oktober 25, 2010, 4:08 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: