//
you're reading...
Promosi Kesehatan

CLTS (Community Lead Total Sanitation)


Latar Belakang CLTS

CLTS atau Community Lead Total Sanitation (dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih sanitasi total yang dipimpin oleh masyarakat) dilatar belakangi oleh adanya “kegagalan” dari proyek-proyek sanitasi sebelumnya .
Dari beberapa studi evaluasi terhadap beberapa program pembangunan sanitasi pedesaan didapatkan hasil bahwa banyak sarana yang dibangun tidak digunakan dan dipelihara oleh masyarakat. Banyak faktor penyebab mengenai kegagalan tersebut, salah satu diantaranya adalah tidak adanya demand atau kebutuhan yang muncul ketika program dilaksanakan, dan pendekatan yang digunakan oleh program tersebut tidak berhasil memunculan demand.dari masyarakat sasaran program.


Di India dan beberapa negara berkembang lainnya termasuk Indonesia terdapat kenyataan bahwa di beberapa desa yang mendapat bantuan untuk sanitasi, rata-rata belum terbebas dari kebiasaan BAB di sembarang tempat atau open defecation. Milyaran rupiah telah dikeluarkan, banyak tenaga kerja yang bergerak dari 1 proyek ke proyek lainnya, dan banyak pihak (kecuali masyarakat) sedikit banyak telah diuntungkan dari proyek-proyek tersebut.
Apa yang dimaksud CLTS.
CLTS adalah sebuah pendekatan dalam pembangunan sanitasi pedesaan dan mulai berkembang pada tahun 2001. Pendekatan ini berawal di beberapa komunitas di Bangladesh dan saat ini sudah diadopsi secara massal di negara tersebut. Bahkan India, di satu negara bagiannya yaitu Provinsi Maharasthra telah mengadopsi pendekatan CLTS ke dalam program pemerintah secara massal yang disebut dengan program Total Sanitation Campaign (TSC). Beberapa negara lain seperti Cambodia, Afrika, Nepal, dan Mongolia telah menerapkan dalam porsi yang lebih kecil.
Pendekatan ini muncul berawal dari sebuah “participatory impact assessment” yang dilakukan pada tahun 1999 terhadap program air bersih dan sanitasi yang telah dijalankan selama 10 tahun yang disponsori oleh Water Aid, sebuah lembaga swadya masyarakat internasional, yang menghasilkan dua rekomendasi utama [1]. Salah satu rekomendasi tersebut adalah mengembangkan sebuah strategi untuk secara perlahan-lahan mencabut subsidi untuk pembangunan toilet.
Ciri utama dari pendekatan ini adalah tidak adanya subsidi terhadap infrastruktur (jamban keluarga), dan tidak menetapkan blue print jamban yang nantinya akan dibangun oleh masyarakat.
Pada dasarnya CLTS adalah “pemberdayaan” dan “tidak membicarakan masalah subsidi”. Artinya, masyarakat yang dijadikan “guru” dengan tidak memberikan subsidi sama sekali.

Prinsip – prinsip CLTS, adalah :

1. Tanpa subsidi kepada masyarakat
2. Tidak menggurui, tidak memaksa dan tidak mempromosikan jamban
3. Masyarakat sebagai pemimpin
4. Totalitas; seluruh komponen masyarakat terlibat dalam analisa permasalahan – perencanaan – pelaksanaan serta pemanfaatan dan pemeliharaan

3 pilar utama dalam PRA yang merupakan basis CLTS
1. Attitude and Behaviour Change (perubahan perilaku dan kebiasaan)
2. Sharing (berbagi)
3. Method (metode)

Tingkatan partisipasi masyarakat, mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi adalah sebagai berikut:
1. Masyarakat hanya menerima informasi; keterlibatan masyarakat hanya sampai diberi informasi (misalnya melalui pengumuman) dan bagaimana informasi itu diberikan ditentukan oleh si pemberi informasi (pihak tertentu).
2. Masyarakat mulai diajak untuk berunding; Pada level ini sudah ada komunikasi 2 arah, dimana masyarakat mulai diajak untuk diskusi atau berunding. Dalam tahap ini meskipun sudah dilibatkan dalam suatu perundingan, pembuat keputusan adalah orang luar atau orang-orang tertentu
3. Membuat keputusan secara bersama-sama antara masyarakat dan pihak luar;
4. Masyarakat mulai mendapatkan wewenang atas kontrol sumber daya dan keputusan
Alat utama PRA dalam CLTS
1. Pemetaan, yang bertujuan untuk mengetahui / melihat peta wilayah BAB masyarakat serta sebagai alat monitoring (pasca triggering, setelah ada mobilisasi masyarakat)
2. Transect Walk, bertujuan untuk melihat dan mengetahui tempat yang paling sering dijadikan tempat BAB. Dengan mengajak masyarakat berjalan ke sana dan berdiskusi di tempat tersebut, diharapkan masyarakat akan merasa jijik dan bagi orang yang biasa BAB di tempat tersebut diharapkan akan terpicu rasa malunya.
3. Alur Kontaminasi (Oral Fecal); mengajak masyarakat untuk melihat bagaimana kotoran manusia dapat dimakan oleh manusia yang lainnya.
4. Simulasi air yang telah terkontaminasi; mengajak masyarakat untuk melihat bagaimana kotoran manusia dapat dimakan oleh manusia yang lainnya
5. Diskusi Kelompok (FGD); bersama-sama dengan masyarakat melihat kondisi yang ada dan menganalisanya sehingga diharapkan dengan sendirinya masyarakat dapat merumuskan apa yang sebaiknya dilakukan atau tidak dilakukan. Pembahasannya meliputi:
FGD untuk menghitung jumlah tinja dari masyarakat yang BAB di sembarang tempat selama 1 hari, 1 bulan, dan dalam 1 tahunnya.
FGD tentang privacy, agama, kemiskinan, dan lain-lain
Elemen-elemen yang harus dipicu, dan alat – alat PRA yang digunakan untuk pemicuan faktor-faktor tersebut.

Hal – hal yang harus dipicu Alat yang digunakan
Rasa jijik • Transect walk
• Demo air yang mengandung tinja, untuk digunakan cuci muka, kumur-kumur, sikat gigi, cuci piring, cuci pakaian, cuci makanan / beras, wudlu, dll
Rasa malu • Transect walk (meng-explore pelaku open defecation)
• FGD (terutama untuk perempuan)
Takut sakit FGD
• Perhitungan jumlah tinja
• Pemetaan rumah warga yang terkena diare dengan didukung data puskesmas
• Alur kontaminasi
Aspek agama Mengutip hadits atau pendapat-pendapat para ahli agama yang relevan dengan perilaku manusia yang dilarang karena merugikan manusia itu sendiri.

About Mbah Yat

yatinem ibu 4 orang anak

Diskusi

One thought on “CLTS (Community Lead Total Sanitation)

  1. asik banget artikelnya, minta ijin copas buat tugas kuliah. Thank’s

    Posted by ki lurah | Oktober 26, 2009, 8:50 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: