//
you're reading...
psikologi anak

Gaya Asuhan Anak


imagesanakmainBeberapa Gaya Parenting

Diana Baumrind (197 mengkelompokkan berbagai gaya parenting di dunia ini menjadi empat:

  1. Authoritatif

Orangtua yang otoritatif memberikan arahan yang kuat pada seluruh aktivitas anak, namun tetap memberikan wilayah yang bebas ditentukan si anak. Orangtua dulu menjelaskannya dengan ungkapan: “pegang kakinya namun biarkan kepalanya bergerak”. Mekanisme kontrol yang dipakai tidak kaku, tidak mengancamnya dengan hukuman, dan menghilangkan batasan-batasan yang tidak terlalu penting. Orangtua berusaha memberikan perhatian supaya anak memahami hal yang mendasar sebagai hal yang mendasar dan memahami hal yang tidak mendasar sebagai hal yang tidak mendasar.

  1. Authoritarian

Orangtua yang authoritarian berusaha membentuk anak, mengontrol seluruh aktivitas anak berdasarkan nilai-nilai tradisional yang berlaku dalam keluarga, dan memberikan standar prilaku yang baku. Orangtua memegang kepalanya dan sekaligus kakinya. Orangtua lebih sering memberikan tekanan, kewajiban, menuntut ketaatan penuh, dan memberikan ancaman hukuman. Orangtua melihat anaknya adalah makhluk yang ia miliki sepenuhnya dan ingin dibentuk sesuai dengan keinginannya.

  1. Permissive

Orangtua yang permisif cenderung mencari aman, menghindari hal-hal yang sulit, menerima atau mengikuti apa kemauan si anak secara utuh. Orangtua permisif membolehkan apa yang dinginkan anak. Anak diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengontrol tindakannya. Posisi orangtua di sini sebagai penegas saja atas apa yang dikonsultasikan anak kepadanya. Kalau anak bertanya boleh nggak minum es pada saat dia pilek, si orangtua bilang ya. Jawaban ya di situ karena orangtua tidak mau pusing mendengar anaknya menangis.

  1. Neglectful
    Orangtua yang neglectful di sini derajatnya lebih dari permisif. Kalau di permisif masih ada keterlibatan interaksi, tetapi untuk yang neglectful ini, orangtua sama sekali tidak terlibat kecuali sebatas memberikan kebutuhan fisik lahiriah si anak, seperti makan, minum, pakaian, atau obatan-obatan. Gaya neglectful ini sangat mudah diterapkan oleh orangtua yang bercerai atau yang sudah tidak harmonis lagi. Si ayah atau si ibu hanya berpatokan pada bukti transfer uang atau kirim wesel ke sebuah pesantren, ke kakek neneknya, atau ke sekolah berasrama lainnya.

Secara hitam putih teori, gaya yang paling bagus adalah yang pertama, otoritatif. Orangtua memberikan arahan, patokan dan pedoman yang jelas dan tegas, namun soal tehniknya dikembalikan ke anak dengan bimbingan dan pengembangan. Apa ada orangtua yang bisa begini seratus persen dan tidak pernah terjebak ke gaya lain? Kalau di prakteknya, mungkin kita bisa bersepakat mengatakan tidak ada orangtua yang bisa melakukan itu. Pasti pernah ada melesetnya.

Karena itu disebutnya sebagai gaya (style). Gaya kita bukanlah diri kita seutuhnya, melainkan diri kita pada mayoritasnya. Dan yang paling penting lagi adalah tujuan akhirnya. Mungkin kita harus permisif, namun itu kita jadikan sebagai perantara untuk menjadi otoritatif. Mungkin kita harus otoritarian, namun tujuan kita akhirnya adalah otoritatif.

“Hadapilah sesuatu yang terus berubah dengan melakukan perubahan yang terus menerus.” (Tao)

Tiga Prinsip Menjadi Otoritatif:

Dewasa kini sudah banyak dikembangkan berbagai tips, trik, dan teknik parenting. Ini bisa kita baca di buku, majalah, koran, internet, dan lain-lain. Namun kalau menelaah ke prakteknya, berbagai tips itu tidak bisa menggantikan sejumlah prinsip mendasar, yang jumlahnya tidak banyak, dan umumnya sudah kita ketahui. Prinsip itu mutlak dijalankan dan tidak ada penggantinya. Peranannya mirip seperti rukun dalam ibadah yang tidak bisa di-copy-paste atau membayar orang lain. Apa saja prinsip itu?

Di antaranya adalah:

  1. Kreatif

Di lapangan, pasti ada perlawanan dan perdebatan. Kita sudah memberi arahan dan pedoman, misalnya jangan membeli sesuatu yang kegunaannya sedikit atau mubadzir. Tetapi si anak tetap tidak mau peduli. Jika kita kasih masukan yang lembut, dia tidak mendengar, tapi kalau kita kasih yang keras, kita takut memotong inisiatif. Bagaimana seperti ini?

Di sinilah pentingnya kreativitas. Artinya, kita perlu merasa tertantang untuk memunculkan berbagai ide, cara, penyikapan, dan perlakuan agar si anak tetap pada pedoman utama, namun tetap memperhatikan hak dia untuk berinisiatif atau mengambil keputusan. Rasa tertantang di sini menjadi kunci, sebab kalau ini hilang, kita akan cenderung menggunakan jurus yang mudah, yaitu menang-kalah. Kalau mau main kalah-menang, kita pasti menang.

  1. Sabar

Sabar di sini tentunya bukan membiarkan. Membiarkan adalah kelemahan, sedangakan kesabaran adalah kekuatan. Sabar adalah konsistensi untuk mengupayakan hal-hal yang baik atau yang bermanfaat lebih banyak, meskipun kita menghadapi penolakan atau hasilnya belum ketahuan. Pesan agama yang paling mendasar tentang kesabaran adalah jangan sampai kita memberikan reaksi negatif atas realitas permukaan. Reaksi ini sangat terkait dengan pemahaman.

Misalnya saja kita merasa bahwa pola asuh yang sudah kita perjuangkan sebegitu rupa selama ini tidak memberikan diferensiasi apa-apa pada anak kita. Menurut kita, biasa-biasa saja atau sama seperti anak orang lain yang diasuh secara ekstrim, dan semisalnya. Perasaan seperti ini bisa menggagalkan konsistensi kita. Padahal, secara konsepnya, semua orang punya kapasitas untuk menjadi konsisten asalkan terus mengembangkan kemampuannya dalam melihat dan memahami realitas ke tingkat yang lebih substansial atau esensial.

Kalau melihat bukti-bukti dari realitas yang lebih esensial, pola asuh tertentu itu pasti menghasilkan pribadi anak yang tertentu juga. Bahwa ada perbedaan yang cepat kelihatan dan ada yang lambat, ini soal proses dan keunikan juga. Ibarat orang yang menanam benih, tentu saja tergantung benihnya. Kalau yang kita tanam kelapa, pasti lama. Intinya, tanpa kesabaran kita akan gagal menjadi otoritatif meskipun sudah menerapkan berbagai tip.

  1. Peduli

Semua orangtua punya naluri untuk peduli pada anak. Bedanya, ada kepedulian yang digerakkan oleh dorongan untuk memenuhi kebutuhan anak berdasarkan perkembangannya. Orangtua melihat perkembangan anak lalu hasilnya digunakan untuk memberi sesuatu. Ada kepedulian yang digerakkan oleh keinginan subyektif orangtua saja. Orangtua memberi si anak tanpa / kurang melihat kebutuhannya. Ada juga kepedulian yang dikalahkan oleh egoisme, kemarahan, dan rasa malu sehingga tampilannya menjadi tidak peduli. Untuk menjadi otoritatif, peduli yang paling dibutuhkan adalah peduli yang dihasilkan dari bacaan kita terhadap perkembangan anak. Semoga bisa kita praktekkan.

“Awal dari permulaan yang baik seringkali tidak bisa dibedakan oleh mata lahiriah”

sumber : http://www.e_psikologi.com

About Mbah Yat

yatinem ibu 4 orang anak

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: